Kamis, 03 Januari 2013

Aku, Komik dan Keluargaku



Hai, Diannique!

I have a story. Short story. Enjoy ~

Aku sedang tiduran di kamar dan membaca sebuah komik yang sudah aku beli. Tapi, sebuah masalah lagi-lagi datang.
“Braak!” Seseorang sedang mendobrak pintu kamarku. “Kamu masih baca komik lagi? Komik itu nggak penting! Nggak bermutu tahu! Cuma membuat kamu jadi malas dan nggak pintar. Buang komik-komik itu!” Kata orang yang mendobrak pintu itu. Ternyata, itu adalah ayahku
.
“Tapi yah?” Bantah ku dengan pasrah.
“Pokoknya kamu nggak boleh baca komik lagi! Baca saja buku pelajaran agar pintar! Kalau ayah masih lihat kamu baca komik, ayah akan memotong uang saku mu!” Kata ayahku.
Begitu lah ayah ku. Aku selalu dibentak gara-gara aku sering baca komik. Padahal, komik itu nggak seperti yang ayahku pikirkan. Komik itu juga bisa bermutu. Kalau kita bisa mengambil hikmahnya. Komik juga bisa membuat otak kita fresh, bahkan bisa membuat kita berkreasi dan berimajinasi.
Aku memang belum memperkenalkan diriku. Tapi, kalian pasti sudah tahu hobiku. Yaitu, membaca komik. Seorang perempuan yang memiliki hobi membaca komik ini bernama Gitania Dwi Febrianti. Ya, namaku Gitania Dwi Febrianti. Biasa dipanggil Gita. Anak kedua dari tiga bersaudara dan lahir di Surabaya, tanggal 13 Februari 2000. Sekarang duduk di bangku kelas 7 SMP.
Aku adalah anak yang paling diperhatikan oleh orang tuaku. Kenapa? Karena hobi ku yang suka membaca komik. Hal ini terjadi ketika aku belum lahir. Dulu, ibuku adalah seorang komikus terkenal. Tapi, ibuku meninggalkan profesinya menjadi komikus karena ayahku melarang beliau untuk menjadi seorang komikus. Alasannya sama, yaitu menurut ayah ku komik itu nggak bermutu. Hal yang dilakukan ibuku menurun kepada ku. Aku sangat suka komik.
Saat aku masih duduk dibangku SD, aku juga sudah mendapatkan berbagai macam piala yang tetap berkaitan dengan komik. Piala itu aku simpan di lemari kamarku. Ayahku tak pernah tahu bahwa aku sering mendapat piala. Karena ketika aku mendapatkan piala itu, aku langsung menyembunyikan piala itu di lemari ku. Kenapa? Karena ibuku sudah cerita bahwa ayah tidak suka dengan komik. Sedangkan piala-piala itu kebanyakan adalah yang berhubungan dengan komik. aku hanya memiliki tiga piala akademik. Yaitu, matematika, IPA dan bahasa ingris. Ketiga piala itu aku letakkan di lemari ruang tamu. 
Aku mulai tahu komik ketika aku kelas 2 SD. Saat itu, aku melihat ibuku diam-diam membuat sebuah komik. Indah sekali. Gambar yang jernih itu membuat ku mulai tertarik pada komik. Tapi, saat itu ayahku masuk ke ruangan ibu. Ibu langsung kaget dan tinta pena yang digunakan ibu untuk menggambar tumpah di atas kertas gambar ibu. Ayah tahu jika ibu sedang menggambar.
“Apa kau menggambar lagi?” tanya ayahku saat itu.
“Tidak, aku tidak menggambar.” Jawab ibuku pelan.
“Iya ayah. Ibu tidak menggambar.” Aku membela ibu. Aku sudah berkata sangata halus. Tapi, ayah tetap tidak memperdulikanku.
“Anak kecil tahu apa?” Ejek ayahku saat itu. Aku hanya diam dan langsung keluar dari ruangan ibuku. Kakakku, yang sedang melihatku dengan raut muka yang marah merasa heran.
“Kamu kenapa dik? Dimarahi ayah? Atau, habis jatuh?” Tanya kakak ku.
“Ayah jahat!” Bentakku yang saat itu masih kecil. Kakak yang melihatku marah seperti itu langsung heran dan tak bisa berkutik.
Begitulah kejadian saat aku masih SD. Suram dan aku tidak bisa berhubungan dengan komik secara terang-terangan. Namun, aku tetap cinta komik dan aku tetap berkiprah di bidang komik.
Esok harinya ...
Aku sudah di sekolah. Memulai pelajaran pertama. Bahasa Indonesia. Pelajaran yang kelihatannya gampang, tapi menyakitkan. Di tengah-tengah pelajaran, terdengar suara dari sound system tiap kelas.
“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Panggilan untuk ananda Gitania Dwi Febrianti dari kelas 7A harap ke kantor sekarang juga. Terimakasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.” Kata guru yang memanggilku lewat sound system tiap kelas.
“Huh? Aku? Yakin? Serius? Ada apa ini?” Batinku. Aku langsung izin ke guru bahasa indonesiaku.
Saat sampai di kantor, ternyata yang memanggil aku adalah wali kelasku. Bu Astuti.
“Ada apa bu?” Tanyaku membuka percakapan.
“Begini, kamu sudah lihat pengumuman di mading?” Tanya Bu Astuti balik.
“Belum, bu.” Kataku. “Ada apa ya?”
“Jadi, di pengumuman itu tertuliskan: ‘Indonesia akan mengadakan sebuah lomba pembuatan komik dan pembuatan novel’ Nah, untuk pembuatan novel, pihak sekolah meilih kamu sebagai wakil dari SMP kita. Kenapa? Karena kami tahu bahwa kamu memiliki bakat di bidang itu. Kamu setuju?” Kata Bu Astuti panjang lebar.
“Pasti!” Seruku mantap. “Saya suka komik!”
“Bagus. Do the best ya Gita! Kita akan mulai pelatihan 2 minggu ini. Babak penyisihan dilaksanakan tanggal 11 Februari, babak semifinal  dilaksanakan tanggal 12 Februari dan Final tanggal 13 Februari. Sekarang tanggal 27 Januari, maka kita punya waktu 2 minggu untuk mulai perlombaan. Paham?” Jelas bu Astuti.
“Paham bu!” Ucapku sangat mantap.
“Ada pertanyaan?” Tanya bu Astuti.
“Lombanya di laksankan di mana?” Tanyaku.
“Jakarta pastinya.” Jawab bu Astuti.
“Kita ke Jakarta kapan?” Tanyaku.
“Mm, mungkin tanggal 8 Februari.” Jawab bu Astuti.
“Ooh, siap bu!” Kataku.
“Semangat ya! Kita mulai latihan besok. Bawa peralatanmu besok. Nanti kamu latihan sama guru seni. Bu Zaskia.” Kata bu Astuti.
“Okee.” Kataku pertanda paham.
“Yasudah, kamu bisa kembali lagi ke kelas.” Kata bu Astuti.
“Ya, makasih bu.” Kataku seraya pergi keluar kantor.
Aku langsung kembali ke kelas. Ternyata pelajaran pertama telah selesai. Mungkin karena saking lamanya aku mengobrol dengan bu Astuti tentang agenda lomba itu. Tapi, pelajaran kedua IPS. Pelajaran yang kubenci dengan guru killer yang ku benci juga Huftt.
Tak terasa aku sudah saatnya pulang. Bertemu dengan ayahku yang jahat itu. Ups, tapi beliau tetap ayahku.
Aku sampai di rumah disambut oleh ibuku yang sedang duduk di ruang tamu.
“Assalamu’alaikum. Bu, aku pulang.” Sapa ku masuk rumah.
“Wa’alaikumsalam. Eh, putri cantik ku datang.” Kata ibuku yang telah memujiku.
“Adik sudah pulang?” Tanyaku sambil meletakkan tasku di kursi ruang tamu.
“Sudah. Itu tidur di kamar.” Jawab ibuku.
“Ooh.” Jawabku singkat padat dan jelas. “Oiya bu, katanya, Indonesia mengadakan lomba membuat komik dan novel, kata wali kelasku, aku adalah perwakilan dari SMP yang mengikuti lomba pembuatan komik.”
“Tingkat nasional?” Tanya ibuku sedikit kaget.
“Yup.” Jawabku singkat.
“Waah, jangan sampai ayah tahu tentang ini.” Kata ibu.
“Pasti.” Jawabku lagi-lagi singkat.
Esoknya, aku mulai mengikuti pelatihan komik. Yup, dengan bu Zaskia. Aku mendapat pelajaran menyenangkan tentang komik yang baru. Tapi, 3 kata yang semakin aku tahu. KOMIK ITU ASYIK!!!
2 minggu telah berlalu, aku sudah mengikuti pelatihan dengan sebaik-baiknya dan aku berharap aku bisa menyelesaikan perlombaan itu dengan lancar dan menjadi the best. Saat ini aku sudah dalam perjalanan ke Jakarta. Aku langsung ke bandara Soekarno Hatta ditemani para guru pendamping. Saat ini aku masih bingung. Kira-kira, bagaimana alasan ibu saat aku pergi selama 3 hari? Semoga aku tidak ketahuan oleh ayah. Amin.
Sekarang saatnya babak penyisihan. Aku memasuki arena perlombaan. Aku melihat banyak orang yang datang. Penuh! Aku yang datang agak terlambat, terpaksa memilih duduk di belakang. Tempat paling panas.
“Okay, sepertinya para komikus amatir ini sudah tidak sabar menggerakkan penanya diatas kertas bung. Baiklah dalam hitungan ketiga. 1, 2, 3 Mulai!!” Kata presenter perlombaan itu. Aku langsung membuat sebuah komik yang semoga WOW di mata juri an menjadi juara nantinya. Amin.
Dua jam berlalu. Waktu  yang diberikan adalah 3 jam. Artinya, waktuku untuk membuat komik tinggal satu jam lagi.
“Yup! Tinggal mengarsir dan menghapus arsiran yang keluar. Semangat!!” Ucapku menyemangati diri sendiri.
Di rumah ...
“Ayah sudah pulang.” Sapa ibuku saat ayah baru pulang sambil tersenyum.
“Yayaya, Gita mana?” tanya ayah saat itu.
“Belum pulang.” Kata ibu pelan.
“Hah? Jam segini belum pulang? Lama sekali? Dia masih ngapain? Jangan-jangan dia bikin komik lagi?” Tanya ayah penasaran.
“Nggak kok, dia kerja kelompok di rumah temannya. Ini dia barusan sms.” Kata ibu sambil menunjukan sms dari aku yang aku kirim demi menghilangkan kecurigaan ayah.
“Ooh, kapan dia akan pulang?” Tanya ayah.
“Ibu kurang tahu.” Jawab ibu.
“Huh..” Desah ayah seraya merebahkan tubuhnya di sofa.
Kembali ke arena perlombaan ..
Waktu tinggal 1 menit lagi. Aku sudah pada tahap pengoreksian. Aku harus mengerjakan yang terbaik untuk yang terbaik! Semangat!
“Yup, saatnya menghitung mundur. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1! Tangan di atas!” Kata presenter mengaba-aba. Aku langsung mengangkat tangan dan melihat pekerjaanku. Not bad.
Huh, akhirnya perlombaan selesai dan aku bisa menyelesaikannya dengan sempurna. Semoga aku bisa masuk semi final Ya Allah. Amin. Kini aku sudah di hotel penginapan. Pengumuman semifinal akan dikirim via sms ke seluruh peserta yang masuk.
Saat ini jam 16.00 WIB. Aku yang setelah mandi langsung mengambil mukenah dan melaksanakan sholat ashar berjama’ah dengan pendamping yang lain. Tiba-tiba “Trrrt .. I don’t need a man I don’t need a man (what) trrrt ..” Suara HP ku berdering dengan nada dering I don’t need a man – Miss A. Aku memang Kpopers. Hehehe ..
Aku mulai membuka sms itu. Aku lihat pengirimnya. Tulisannya “From: +62xxxxxxxxxxx (noname)” Aku berpikir. Siapa kira-kira ya? Isinya apa ya? Jengjengjengjeng. Tertera tulisan :
“Selamat sore. Hei! Selamat buat kamu! Kamu masuk ke babak semi final perlombaan komik tingkat nasional. Dengan Nama Gitania Dwi Febrianti dengan judul ‘Music Is My Life’ degan nomor urut 13. Selamat yaa! Semangat di semifinal! Terimakasih –panitia”
Hah? Aku baca lagi. Namaku? Nomor urut 13? Waaaaa! Yeah! I got it! Aku harus tetap semangat! Beritahu ibu. Harus beritahu ibu. Aku langsung kirim sms kepada ibuku. Ibuku menjawab “Selamat dan Semangat nak.”
Babak penyisihan dimulai. Aku melihat sekeliling. “Whoah, sepertinya lawanku besar-besar dan professional. Aah, tetap semangat Gita! Fighting!” Batinku dalam hati.
Tanpa terasa babak penyisihan selesai. Untuk kali ini, pengumuman yang masuk ke babak final akan diumumkan secara langsung. Jadi aku tetap harus menunggu di ruangan.
“Yap! Saatnya pengumuman! Yang masuk babak final ada 13 orang. Saya akan menyebutkannya dari atas. Siap-siap jika anda orangnya!” Kata panitia.
Aku menunggu sambil berdo’a. “1. Livia Syafina, 2. Rizaldy Rizqullah, 3. Adam Alfian, 4. Azam Rizki, 5. Alfiana Mahdiyah, .......” Aku belum disebut. Aku tetap manunggu dan berdo’a.
“.... 10. Gilang Azmie, 11. Puspita Berliana, 12. Isna Amelia, dan yang terakhir 13. Gitania Dwi!! Selamat bagi yang masuk final!” Kata panitia.
Yap. Aku disebut di nomor terakhir. Alhamdulillah ya Allah. Aku langsung mengirim SMS kepada ibuku. “Bu, Alhamdulillah aku masuk final.” Isi pesan SMS ku. Tapi, ibu tidak langsung membalas SMS ku. Lama sekali membalasnya. Setelah satu jam kemudian dengan jawaban, “Selamat dan tetap semangat nak.”
Satu jam sebelum ibu membalas SMS ku ...
“Mana Gita?” Tanya ayahku yang baru datang.
“Ia masih menginap di rumah temannya.” Jawab ibuku.
“Lama sekali? Kau bohong ya?” Tanya ayah.
“Tidak.” Jawab ibuku pelan.
“Bohong!” Bentak ayah saat itu yang langsung membanting ibu hingga jatuh. Ibu hanya menangis dan merintih kesakitan.
Babak final ...
“Huft, hampir selesai! Semangat Gita!! Semangat!” Kataku menyemangati diriku sendiri.
“Yap! Waktu habis! Tangan semua diatas!” Kata panitia. Aku langsung mengangkat tanganku dan memandang pekerjaanku. Yaps,  perfecto!
Untuk babak final juga lebih ekstrim. Dari 13 peserta yang masuk semifinal, akan di ambil 5 terbaik dan digi juara-juara sendiri. Aku yang mendengar pengumuman seperti itu, langsng pesimis. Aku melihat lawan-lawanku. Apa aku bisa melawan mereka? Menang dari mereka? Mereka semua professional sedangkan aku hanya komikus amatir yang masih duduk di bangku SMP. Fiuuh, semoga aku dapat juara Ya Allah.
“Sekarang daripada kita menunggu lama-lama. Saya akan langsung mengumumkan pemenangnya. Bagi para peserta harap naik ke atas panggung.” Kata panitia. Aku langsung naik ke atas panggung.
“Okay, saya panggil dari yang terbawah. Juara harapan II adalah Rizaldy Rizqullah!!” Kata panitia. “Juara Harapan I adalah Adam Alfian. Juara III adalah Puspita Berliana. Juara II adalah Gilang Azmie dan Juara I adalah .. Gitania Dwi!”
Aku yang sedang berdo’a langsung meregangkan tangan dan sujud syukur. Ya Allah terimakasih Engkau telah mengabulkan do’a ku. Semua juara diberikan sebuah piala dan uang yang berbeda jumlahnya pada tiap juara. Alhamdulillah juara I mendapatkan uang Rp. 100.000.000. Uang dan Piala itu spesial aku berikan untuk keluargaku di rumah. Aku harap ayah bisa mengizinkan aku senang komik jika melihat aku mendapatkan juara. Aku masih tidak sadar. Mengapa aku bisa mendapatkan juara I saat hari ulang tahunku. Lalu mengapa saat semi final aku adalah peringkat 13? 13 kan tanggal ulang tahunku?
Saat pulang dan sampai di rumah ...
“Assalamu’alaikum .. Ayah ibu, adik, kakak? Lihat apa yang aku dapat!” Sapaku masuk rumah. Tapi, apa yang terjadi? Ayah malah keluar dari ruma sambil marah-marah dan tidak mempedulikan aku. Aku lihat ibu, ibu juga menangis sambil memandangiku. Memandangi apa yang telah aku dapatkan.
“Ibu? Ibu kenapa? Ayah kenapa? Adik dan Kakak mana?” Tanya ku.
“Naak, ayah tahu jika kamu berhubungan dengan komik.” Kata ibu sambil menangis.
“Ibu ..” Kataku sambil memeluk ibu.
Setelah kejadian itu, tangisan ibu mulai mereda. Kakak dan adik ku juga sudah pulang dari sekolah. Tapi ayah belum juga pulang.
Aku duduk di ruang tamu sambil membaca komik. Tiba-tiba ibu menghampiriku.
“Kau masih suka komik?” Tanya ibu.”
“He’em.” Jawabku sambil menganggukkan kepala.
“Sebenarnya ibu mengijinkanmu suka dengan apa saja, aktif dalam bidang apa saja. Sejak lama, ibu bangga padamu nak.” Kata ibu.
“Iya bu aku tahu. Aku tetap akan membanggakan ibu dan ayah serta kakak dan adik.” Kata ku.
Seminggu telah berlalu, ayah belum juga pulang seperti bang Toyib. Lama tak pulang ke rumah. Saat itu, aku duduk di kursi taman sebelah rumah yang jelas membaca komik. Tiba-tiba seseorang datang. Orang itu memakai jas, kacamata, dan sebuah topi. Aku tidak mempedulikan orang itu, karena aku terlalu serius membaca komikku.
“Naak.” Kata orang misterius itu.
“Hem?” Jawabku kaget. “Bapak siapa?”
Orang itu membuka kacamata dan topinya.
“Ayah? Apa anda ayah saya?” Tanyaku.
Orang itu hanya mengangguk pertanda iya.
“Ayah!” Aku langsung memeluk ayah dan tanpa terasa aku meneteskan air mata.
Ibu yang merasa ada suara tangisan langsung keluar dari rumah menuju halaman sebelah rumah. “Apa itu suamiku?” Tanya ibuku pada dirinya sendiri.
“Ibu?” Tanya ku. “Ayah pulang bu.”
“Suamiku ...” Kata ibuku sambil meneteskan air mata. “Masuk lah dulu!”
Kami bertiga masuk kerumah. Ayah langsung mandi dan tidur di sofa. Awalnya aku ingin mengajak ayah bicara tapi, momennya belum tepat. Jadi, aku memilih untuk bicara pada ayah nanti.
Sore hari ...
Aku lagi-lagi tiduran di kamar sambil membaca komik. Tiba-tiba ayah masuk.
“Eh, ada ayah. Ada apa yah?” Tanyaku. Ayah hanya tersenyum dan membuka lemari kamarku.
“Jangan dibuka!” Kataku yang takut jika lemari itu dibuka. Kenapa? Di lemari itu, ada piala-pialaku tentang komik. Jika ayah tahu, kemungkinan ayah akan marah lagi.
“Sudahlah.” Kata ayahku. Aku langsung kembali ke mejauhi lemari. “Ini semua pialamu?”
“I .. Iya. Kenapa?” Tanyaku balik.
“Ternyata kamu masih berkiprah di bidang komik?” Tanya ayah.
“Iya.” Jawabku mulai gugup.
“Ini piala juara I tingkat nasional?” Tanya ayah lagi.
“Iya.” Jawabku bertambah gugup.
“Lanjutkan hobimu itu nak.” Kata ayah. “Ayah nggak akan lagi melarang kamu untuk membuat komik. Ayah kini sadar, ayah itu nggak perlu memaksa anak untuk menjadi apa yang ayah inginkan. Malah harus membebaskan anak berkreasi sebaik mungkin dan tetap menjaganya.”
“Terimakasih ayah.” Kataku tersenyum.
Jadi kini, aku terus membuat komik dan akan menjadi komikus professional tingkat internasional! Jadi pesan terakhir dari aku, jangan kalian minder karena berbeda dari yang lain. Malah, kita harus menelusuri. Kira-kira, kenapa sih aku berbeda? Mungkin perbedaan itu membuat kamu spesial.
Satu lagi, jika kalian punya mimpi, gapai mimpi itu. Gagal? Bangkit lagi! Gagal lagi? Bangkit lagi. Lihat Thomas Alva Edison. Beliau telah sering gagal membuat lampu. Tapi akhirnya, beliau dapat menciptakan listrik hingga seperti saat ini. Jadi, kalau kamu punya mimpi, gapai mimpi itu! Jangan hanya membiarkan mimpi itu sebatas mimpi. Semangat!!
-The End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar