Hai, Diannique!
I have a story. Short story. Enjoy ~
Aku sedang tiduran di kamar dan membaca
sebuah komik yang sudah aku beli. Tapi, sebuah masalah lagi-lagi datang.
“Braak!” Seseorang
sedang mendobrak pintu kamarku. “Kamu masih baca komik lagi? Komik itu nggak
penting! Nggak bermutu tahu! Cuma membuat kamu jadi malas dan nggak pintar.
Buang komik-komik itu!” Kata orang yang mendobrak pintu itu. Ternyata, itu
adalah ayahku
.
.
“Tapi yah?” Bantah ku
dengan pasrah.
“Pokoknya kamu nggak
boleh baca komik lagi! Baca saja buku pelajaran agar pintar! Kalau ayah masih
lihat kamu baca komik, ayah akan memotong uang saku mu!” Kata ayahku.
Begitu lah ayah ku. Aku
selalu dibentak gara-gara aku sering baca komik. Padahal, komik itu nggak
seperti yang ayahku pikirkan. Komik itu juga bisa bermutu. Kalau kita bisa
mengambil hikmahnya. Komik juga bisa membuat otak kita fresh, bahkan bisa membuat kita berkreasi dan berimajinasi.
Aku memang belum
memperkenalkan diriku. Tapi, kalian pasti sudah tahu hobiku. Yaitu, membaca
komik. Seorang perempuan yang memiliki hobi membaca komik ini bernama Gitania
Dwi Febrianti. Ya, namaku Gitania Dwi Febrianti. Biasa dipanggil Gita. Anak
kedua dari tiga bersaudara dan lahir di Surabaya, tanggal 13 Februari 2000.
Sekarang duduk di bangku kelas 7 SMP.
Aku adalah anak yang
paling diperhatikan oleh orang tuaku. Kenapa? Karena hobi ku yang suka membaca
komik. Hal ini terjadi ketika aku belum lahir. Dulu, ibuku adalah seorang
komikus terkenal. Tapi, ibuku meninggalkan profesinya menjadi komikus karena
ayahku melarang beliau untuk menjadi seorang komikus. Alasannya sama, yaitu
menurut ayah ku komik itu nggak bermutu. Hal yang dilakukan ibuku menurun
kepada ku. Aku sangat suka komik.
Saat aku masih duduk
dibangku SD, aku juga sudah mendapatkan berbagai macam piala yang tetap
berkaitan dengan komik. Piala itu aku simpan di lemari kamarku. Ayahku tak
pernah tahu bahwa aku sering mendapat piala. Karena ketika aku mendapatkan
piala itu, aku langsung menyembunyikan piala itu di lemari ku. Kenapa? Karena
ibuku sudah cerita bahwa ayah tidak suka dengan komik. Sedangkan piala-piala
itu kebanyakan adalah yang berhubungan dengan komik. aku hanya memiliki tiga
piala akademik. Yaitu, matematika, IPA dan bahasa ingris. Ketiga piala itu aku
letakkan di lemari ruang tamu.
Aku mulai tahu komik
ketika aku kelas 2 SD. Saat itu, aku melihat ibuku diam-diam membuat sebuah
komik. Indah sekali. Gambar yang jernih itu membuat ku mulai tertarik pada
komik. Tapi, saat itu ayahku masuk ke ruangan ibu. Ibu langsung kaget dan tinta
pena yang digunakan ibu untuk menggambar tumpah di atas kertas gambar ibu. Ayah
tahu jika ibu sedang menggambar.
“Apa kau menggambar
lagi?” tanya ayahku saat itu.
“Tidak, aku tidak
menggambar.” Jawab ibuku pelan.
“Iya ayah. Ibu tidak
menggambar.” Aku membela ibu. Aku sudah berkata sangata halus. Tapi, ayah tetap
tidak memperdulikanku.
“Anak kecil tahu apa?”
Ejek ayahku saat itu. Aku hanya diam dan langsung keluar dari ruangan ibuku.
Kakakku, yang sedang melihatku dengan raut muka yang marah merasa heran.
“Kamu kenapa dik?
Dimarahi ayah? Atau, habis jatuh?” Tanya kakak ku.
“Ayah jahat!” Bentakku
yang saat itu masih kecil. Kakak yang melihatku marah seperti itu langsung
heran dan tak bisa berkutik.
Begitulah kejadian saat
aku masih SD. Suram dan aku tidak bisa berhubungan dengan komik secara
terang-terangan. Namun, aku tetap cinta komik dan aku tetap berkiprah di bidang
komik.
Esok harinya ...
Aku sudah di sekolah.
Memulai pelajaran pertama. Bahasa Indonesia. Pelajaran yang kelihatannya
gampang, tapi menyakitkan. Di tengah-tengah pelajaran, terdengar suara dari sound system tiap kelas.
“Assalamu’alaikum Wr.
Wb. Panggilan untuk ananda Gitania Dwi Febrianti dari kelas 7A harap ke kantor
sekarang juga. Terimakasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.” Kata guru yang
memanggilku lewat sound system tiap
kelas.
“Huh? Aku? Yakin?
Serius? Ada apa ini?” Batinku. Aku langsung izin ke guru bahasa indonesiaku.
Saat sampai di kantor,
ternyata yang memanggil aku adalah wali kelasku. Bu Astuti.
“Ada apa bu?” Tanyaku
membuka percakapan.
“Begini, kamu sudah
lihat pengumuman di mading?” Tanya Bu Astuti balik.
“Belum, bu.” Kataku.
“Ada apa ya?”
“Jadi, di pengumuman
itu tertuliskan: ‘Indonesia akan mengadakan sebuah lomba pembuatan komik dan
pembuatan novel’ Nah, untuk pembuatan novel, pihak sekolah meilih kamu sebagai
wakil dari SMP kita. Kenapa? Karena kami tahu bahwa kamu memiliki bakat di
bidang itu. Kamu setuju?” Kata Bu Astuti panjang lebar.
“Pasti!” Seruku mantap.
“Saya suka komik!”
“Bagus. Do the best ya Gita! Kita akan mulai
pelatihan 2 minggu ini. Babak penyisihan dilaksanakan tanggal 11 Februari, babak
semifinal dilaksanakan tanggal 12
Februari dan Final tanggal 13 Februari. Sekarang tanggal 27 Januari, maka kita
punya waktu 2 minggu untuk mulai perlombaan. Paham?” Jelas bu Astuti.
“Paham bu!” Ucapku
sangat mantap.
“Ada pertanyaan?” Tanya
bu Astuti.
“Lombanya di laksankan
di mana?” Tanyaku.
“Jakarta pastinya.”
Jawab bu Astuti.
“Kita ke Jakarta
kapan?” Tanyaku.
“Mm, mungkin tanggal 8
Februari.” Jawab bu Astuti.
“Ooh, siap bu!” Kataku.
“Semangat ya! Kita
mulai latihan besok. Bawa peralatanmu besok. Nanti kamu latihan sama guru seni.
Bu Zaskia.” Kata bu Astuti.
“Okee.” Kataku pertanda
paham.
“Yasudah, kamu bisa
kembali lagi ke kelas.” Kata bu Astuti.
“Ya, makasih bu.”
Kataku seraya pergi keluar kantor.
Aku langsung kembali ke
kelas. Ternyata pelajaran pertama telah selesai. Mungkin karena saking lamanya
aku mengobrol dengan bu Astuti tentang agenda lomba itu. Tapi, pelajaran kedua
IPS. Pelajaran yang kubenci dengan guru killer yang ku benci juga Huftt.
Tak terasa aku sudah
saatnya pulang. Bertemu dengan ayahku yang jahat itu. Ups, tapi beliau tetap
ayahku.
Aku sampai di rumah
disambut oleh ibuku yang sedang duduk di ruang tamu.
“Assalamu’alaikum. Bu,
aku pulang.” Sapa ku masuk rumah.
“Wa’alaikumsalam. Eh,
putri cantik ku datang.” Kata ibuku yang telah memujiku.
“Adik sudah pulang?”
Tanyaku sambil meletakkan tasku di kursi ruang tamu.
“Sudah. Itu tidur di
kamar.” Jawab ibuku.
“Ooh.” Jawabku singkat
padat dan jelas. “Oiya bu, katanya, Indonesia mengadakan lomba membuat komik
dan novel, kata wali kelasku, aku adalah perwakilan dari SMP yang mengikuti
lomba pembuatan komik.”
“Tingkat nasional?”
Tanya ibuku sedikit kaget.
“Yup.” Jawabku singkat.
“Waah, jangan sampai
ayah tahu tentang ini.” Kata ibu.
“Pasti.” Jawabku
lagi-lagi singkat.
Esoknya, aku mulai
mengikuti pelatihan komik. Yup, dengan bu Zaskia. Aku mendapat pelajaran
menyenangkan tentang komik yang baru. Tapi, 3 kata yang semakin aku tahu. KOMIK
ITU ASYIK!!!
2 minggu telah berlalu,
aku sudah mengikuti pelatihan dengan sebaik-baiknya dan aku berharap aku bisa
menyelesaikan perlombaan itu dengan lancar dan menjadi the best. Saat ini aku sudah dalam perjalanan ke Jakarta. Aku
langsung ke bandara Soekarno Hatta ditemani para guru pendamping. Saat ini aku
masih bingung. Kira-kira, bagaimana alasan ibu saat aku pergi selama 3 hari?
Semoga aku tidak ketahuan oleh ayah. Amin.
Sekarang saatnya babak
penyisihan. Aku memasuki arena perlombaan. Aku melihat banyak orang yang
datang. Penuh! Aku yang datang agak terlambat, terpaksa memilih duduk di
belakang. Tempat paling panas.
“Okay, sepertinya para
komikus amatir ini sudah tidak sabar menggerakkan penanya diatas kertas bung.
Baiklah dalam hitungan ketiga. 1, 2, 3 Mulai!!” Kata presenter perlombaan itu.
Aku langsung membuat sebuah komik yang semoga WOW di mata juri an menjadi juara
nantinya. Amin.
Dua jam berlalu.
Waktu yang diberikan adalah 3 jam.
Artinya, waktuku untuk membuat komik tinggal satu jam lagi.
“Yup! Tinggal mengarsir
dan menghapus arsiran yang keluar. Semangat!!” Ucapku menyemangati diri
sendiri.
Di rumah ...
“Ayah sudah pulang.”
Sapa ibuku saat ayah baru pulang sambil tersenyum.
“Yayaya, Gita mana?”
tanya ayah saat itu.
“Belum pulang.” Kata
ibu pelan.
“Hah? Jam segini belum
pulang? Lama sekali? Dia masih ngapain? Jangan-jangan dia bikin komik lagi?” Tanya
ayah penasaran.
“Nggak kok, dia kerja
kelompok di rumah temannya. Ini dia barusan sms.” Kata ibu sambil menunjukan
sms dari aku yang aku kirim demi menghilangkan kecurigaan ayah.
“Ooh, kapan dia akan
pulang?” Tanya ayah.
“Ibu kurang tahu.”
Jawab ibu.
“Huh..” Desah ayah
seraya merebahkan tubuhnya di sofa.
Kembali ke arena
perlombaan ..
Waktu tinggal 1 menit
lagi. Aku sudah pada tahap pengoreksian. Aku harus mengerjakan yang terbaik
untuk yang terbaik! Semangat!
“Yup, saatnya
menghitung mundur. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1! Tangan di atas!” Kata
presenter mengaba-aba. Aku langsung mengangkat tangan dan melihat pekerjaanku. Not bad.
Huh, akhirnya
perlombaan selesai dan aku bisa menyelesaikannya dengan sempurna. Semoga aku
bisa masuk semi final Ya Allah. Amin. Kini aku sudah di hotel penginapan.
Pengumuman semifinal akan dikirim via sms ke seluruh peserta yang masuk.
Saat ini jam 16.00 WIB.
Aku yang setelah mandi langsung mengambil mukenah dan melaksanakan sholat ashar
berjama’ah dengan pendamping yang lain. Tiba-tiba “Trrrt .. I don’t need a man I don’t need a man (what)
trrrt ..” Suara HP ku berdering dengan nada dering I don’t need a man – Miss A. Aku memang Kpopers. Hehehe ..
Aku mulai membuka sms
itu. Aku lihat pengirimnya. Tulisannya “From: +62xxxxxxxxxxx (noname)” Aku
berpikir. Siapa kira-kira ya? Isinya apa ya? Jengjengjengjeng. Tertera tulisan
:
“Selamat sore. Hei!
Selamat buat kamu! Kamu masuk ke babak semi final perlombaan komik tingkat
nasional. Dengan Nama Gitania Dwi Febrianti dengan judul ‘Music Is My Life’ degan nomor urut 13. Selamat yaa! Semangat di
semifinal! Terimakasih –panitia”
Hah? Aku baca lagi.
Namaku? Nomor urut 13? Waaaaa! Yeah! I
got it! Aku harus tetap semangat! Beritahu ibu. Harus beritahu ibu. Aku
langsung kirim sms kepada ibuku. Ibuku menjawab “Selamat dan Semangat nak.”
Babak penyisihan
dimulai. Aku melihat sekeliling. “Whoah, sepertinya lawanku besar-besar dan
professional. Aah, tetap semangat Gita! Fighting!”
Batinku dalam hati.
Tanpa terasa babak
penyisihan selesai. Untuk kali ini, pengumuman yang masuk ke babak final akan
diumumkan secara langsung. Jadi aku tetap harus menunggu di ruangan.
“Yap! Saatnya
pengumuman! Yang masuk babak final ada 13 orang. Saya akan menyebutkannya dari
atas. Siap-siap jika anda orangnya!” Kata panitia.
Aku menunggu sambil
berdo’a. “1. Livia Syafina, 2. Rizaldy Rizqullah, 3. Adam Alfian, 4. Azam
Rizki, 5. Alfiana Mahdiyah, .......” Aku belum disebut. Aku tetap manunggu dan
berdo’a.
“.... 10. Gilang Azmie,
11. Puspita Berliana, 12. Isna Amelia, dan yang terakhir 13. Gitania Dwi!!
Selamat bagi yang masuk final!” Kata panitia.
Yap. Aku disebut di
nomor terakhir. Alhamdulillah ya Allah. Aku langsung mengirim SMS kepada ibuku.
“Bu, Alhamdulillah aku masuk final.” Isi pesan SMS ku. Tapi, ibu tidak langsung
membalas SMS ku. Lama sekali membalasnya. Setelah satu jam kemudian dengan
jawaban, “Selamat dan tetap semangat nak.”
Satu jam sebelum ibu
membalas SMS ku ...
“Mana Gita?” Tanya
ayahku yang baru datang.
“Ia masih menginap di
rumah temannya.” Jawab ibuku.
“Lama sekali? Kau
bohong ya?” Tanya ayah.
“Tidak.” Jawab ibuku
pelan.
“Bohong!” Bentak ayah
saat itu yang langsung membanting ibu hingga jatuh. Ibu hanya menangis dan
merintih kesakitan.
Babak final ...
“Huft, hampir selesai!
Semangat Gita!! Semangat!” Kataku menyemangati diriku sendiri.
“Yap! Waktu habis!
Tangan semua diatas!” Kata panitia. Aku langsung mengangkat tanganku dan
memandang pekerjaanku. Yaps, perfecto!
Untuk babak final juga
lebih ekstrim. Dari 13 peserta yang masuk semifinal, akan di ambil 5 terbaik
dan digi juara-juara sendiri. Aku yang mendengar pengumuman seperti itu,
langsng pesimis. Aku melihat lawan-lawanku. Apa aku bisa melawan mereka? Menang
dari mereka? Mereka semua professional sedangkan aku hanya komikus amatir yang
masih duduk di bangku SMP. Fiuuh, semoga aku dapat juara Ya Allah.
“Sekarang daripada kita
menunggu lama-lama. Saya akan langsung mengumumkan pemenangnya. Bagi para
peserta harap naik ke atas panggung.” Kata panitia. Aku langsung naik ke atas
panggung.
“Okay, saya panggil
dari yang terbawah. Juara harapan II adalah Rizaldy Rizqullah!!” Kata panitia.
“Juara Harapan I adalah Adam Alfian. Juara III adalah Puspita Berliana. Juara
II adalah Gilang Azmie dan Juara I adalah .. Gitania Dwi!”
Aku yang sedang berdo’a
langsung meregangkan tangan dan sujud syukur. Ya Allah terimakasih Engkau telah
mengabulkan do’a ku. Semua juara diberikan sebuah piala dan uang yang berbeda
jumlahnya pada tiap juara. Alhamdulillah juara I mendapatkan uang Rp.
100.000.000. Uang dan Piala itu spesial aku berikan untuk keluargaku di rumah.
Aku harap ayah bisa mengizinkan aku senang komik jika melihat aku mendapatkan
juara. Aku masih tidak sadar. Mengapa aku bisa mendapatkan juara I saat hari
ulang tahunku. Lalu mengapa saat semi final aku adalah peringkat 13? 13 kan
tanggal ulang tahunku?
Saat pulang dan sampai
di rumah ...
“Assalamu’alaikum ..
Ayah ibu, adik, kakak? Lihat apa yang aku dapat!” Sapaku masuk rumah. Tapi, apa
yang terjadi? Ayah malah keluar dari ruma sambil marah-marah dan tidak
mempedulikan aku. Aku lihat ibu, ibu juga menangis sambil memandangiku.
Memandangi apa yang telah aku dapatkan.
“Ibu? Ibu kenapa? Ayah
kenapa? Adik dan Kakak mana?” Tanya ku.
“Naak, ayah tahu jika
kamu berhubungan dengan komik.” Kata ibu sambil menangis.
“Ibu ..” Kataku sambil
memeluk ibu.
Setelah kejadian itu,
tangisan ibu mulai mereda. Kakak dan adik ku juga sudah pulang dari sekolah.
Tapi ayah belum juga pulang.
Aku duduk di ruang tamu
sambil membaca komik. Tiba-tiba ibu menghampiriku.
“Kau masih suka komik?”
Tanya ibu.”
“He’em.” Jawabku sambil
menganggukkan kepala.
“Sebenarnya ibu
mengijinkanmu suka dengan apa saja, aktif dalam bidang apa saja. Sejak lama,
ibu bangga padamu nak.” Kata ibu.
“Iya bu aku tahu. Aku
tetap akan membanggakan ibu dan ayah serta kakak dan adik.” Kata ku.
Seminggu telah berlalu,
ayah belum juga pulang seperti bang Toyib. Lama tak pulang ke rumah. Saat itu,
aku duduk di kursi taman sebelah rumah yang jelas membaca komik. Tiba-tiba
seseorang datang. Orang itu memakai jas, kacamata, dan sebuah topi. Aku tidak
mempedulikan orang itu, karena aku terlalu serius membaca komikku.
“Naak.” Kata orang
misterius itu.
“Hem?” Jawabku kaget.
“Bapak siapa?”
Orang itu membuka
kacamata dan topinya.
“Ayah? Apa anda ayah
saya?” Tanyaku.
Orang itu hanya
mengangguk pertanda iya.
“Ayah!” Aku langsung
memeluk ayah dan tanpa terasa aku meneteskan air mata.
Ibu yang merasa ada
suara tangisan langsung keluar dari rumah menuju halaman sebelah rumah. “Apa
itu suamiku?” Tanya ibuku pada dirinya sendiri.
“Ibu?” Tanya ku. “Ayah
pulang bu.”
“Suamiku ...” Kata
ibuku sambil meneteskan air mata. “Masuk lah dulu!”
Kami bertiga masuk
kerumah. Ayah langsung mandi dan tidur di sofa. Awalnya aku ingin mengajak ayah
bicara tapi, momennya belum tepat. Jadi, aku memilih untuk bicara pada ayah
nanti.
Sore hari ...
Aku lagi-lagi tiduran
di kamar sambil membaca komik. Tiba-tiba ayah masuk.
“Eh, ada ayah. Ada apa
yah?” Tanyaku. Ayah hanya tersenyum dan membuka lemari kamarku.
“Jangan dibuka!” Kataku
yang takut jika lemari itu dibuka. Kenapa? Di lemari itu, ada piala-pialaku
tentang komik. Jika ayah tahu, kemungkinan ayah akan marah lagi.
“Sudahlah.” Kata
ayahku. Aku langsung kembali ke mejauhi lemari. “Ini semua pialamu?”
“I .. Iya. Kenapa?”
Tanyaku balik.
“Ternyata kamu masih
berkiprah di bidang komik?” Tanya ayah.
“Iya.” Jawabku mulai
gugup.
“Ini piala juara I
tingkat nasional?” Tanya ayah lagi.
“Iya.” Jawabku
bertambah gugup.
“Lanjutkan hobimu itu
nak.” Kata ayah. “Ayah nggak akan lagi melarang kamu untuk membuat komik. Ayah
kini sadar, ayah itu nggak perlu memaksa anak untuk menjadi apa yang ayah
inginkan. Malah harus membebaskan anak berkreasi sebaik mungkin dan tetap
menjaganya.”
“Terimakasih ayah.”
Kataku tersenyum.
Jadi kini, aku terus
membuat komik dan akan menjadi komikus professional tingkat internasional! Jadi
pesan terakhir dari aku, jangan kalian minder karena berbeda dari yang lain.
Malah, kita harus menelusuri. Kira-kira, kenapa sih aku berbeda? Mungkin
perbedaan itu membuat kamu spesial.
Satu lagi, jika kalian
punya mimpi, gapai mimpi itu. Gagal? Bangkit lagi! Gagal lagi? Bangkit lagi.
Lihat Thomas Alva Edison. Beliau telah sering gagal membuat lampu. Tapi akhirnya,
beliau dapat menciptakan listrik hingga seperti saat ini. Jadi, kalau kamu
punya mimpi, gapai mimpi itu! Jangan hanya membiarkan mimpi itu sebatas mimpi.
Semangat!!
-The End-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar