Senin, 07 Januari 2013

Indonesia di Hatiku

Hai, Diannique!

Aku punya cerpen lagi. Yang ini judulnya "Indonesia di Hatiku." Isinya tentang seseorang dari luar negeri yang sangat mencintai Indonesia. Penasaran? Just Read! Enjoy ;) 









          Aku duduk di sofa yang terletak di depan TV. Sambil ku santap popcorn yang ada di tanganku. Aku melihat TV sambil memakan popcorn. Channel Indonesia tepatnya. “Jediaaaaarrr!!!!” Yak, suara petir menyambar. Ku jelaskan lagi, saat ini aku duduk di depan TV dan melihat channel Indonesia sambil memakan popcorn di tengah hujan.



          “Ai? Aii!! Matikan TV nya. Hujan deras, nanti lampu mati lo, kita harus hemat listrik.” Bentak ibuku dari dapur.



          “Bentar ma, Ai lagi liat Wayang Indonesia ini. Keren ma!” Jawabku.




          “Ohya? Waah, nggak ngajak ngajak kamu, mama kangen sama Wayang Indonesia.” Kata ibuku seraya menghampiriku yang sedang melihat TV.



          Akhirnya aku dan ibuku melihat wayang Indonesia bersama. Yak, jika tak kenal maka tak sayang. Kenalin, aku Ai Akimoto. Aku lahir di Tokyo, Jepang. Tanggal 13 Februari 2000. Aku juga blasteran. Ayahku dari Jepang, ibuku dari Indonesia. Kini, aku tinggal di Tokyo. Bermain di Tokyo, makan di Tokyo, sekolah  di Tokyo, dan berbagai aktifitas lainnya aku lakukan di Tokyo. Keinginanku banyak. Seperti menggapai cita-cikaku, menggapai gelar sarjana, berhasil membuat karya yang dikenal banyak orang, keliling dunia, dll. Tapi, keinginan yang paling aku inginkan adalah keliling Indonesia.



          “Klip.” Lampu mati.



          “Ma, ada apa ma? Kok tiba-tiba lamunya mati?” Tanyaku.



          “Kau itu, ini akibatnya kamu nonton TV terus, lampunya mati tuh.” Jawab ibuku.



          “Ma, bukannya tadi mama yang ikut-ikut aku liat TV? Ah, mama mah, nggak ngerasa.” Jawabku sedikit ada aksen Sunda. Ini turunan dari ibuku. Ibuku lahir di Bandung.



          “Sudah, diam. Sekarang, bantu mama nyalakan lilin.” Kata mama.



          “Siap!” Jawabku setengah kesal.



          Sekedar info. Walaupun aku tinggal di Tokyo dan berwarganegaraan Jepang, aku nggak lupa tentang Indonesia. Aku malah banyak tahu tentang Indonesia. Ibuku yang mengajarinya.



          Esoknya..



          “Ma, seragamku sudah siap?” Tanyaku.



          “Heh, Ai. Kamu itu sudah besar, mama semakin tua.” Kata ibuku. “Jadi, kamu harus lebih mandiri, cuci piring sendiri, cuci baju sendiri, setrika sendiri. Biar nanti kalau sudah berkeluarga nggak bingung.”



          “Sip!” Kataku singkat seraya mengambil seragam dan berlari ke kamar.



          “Anak nakal.” Gumam ibu.



          Aku yang sudah di dalam kamar tertawa cekikikan. Aku melihat jam. Jam menunjukan jarum panjang di angka 7, dan jarum pendek di antara angka 6 dan 7. “Waduh telat telat!!” Gumamku yang langsung mengambil tas dan pergi ke meja makan.



          Karena takut terlambat, aku langsung melahap semua sarapanku. “Mha, hagu ge hegola hulu. Gaga! (Ma, aku ke sekolah dulu. Dada!)” Kataku dengan mulut penuh makanan.



          “Ai! Yang bener! Mama nggak tau bahasamu! Lahap semua makanannya!” Kata ibu.



          “Glek, glek, glek.” Suara aku sedang minum. “Ma, aku ke sekolah dulu. Dada!”



          “Heh! Mau kemana? Salim!” Suruh ibu.



          “Hmm.” Gumamku seraya salim ke ibu. Oiya. Kebiasaan orang Indonesia itu melekat banget di aku. Kenapa? Aku pernah menetap di Indonesia selama 6 tahun. Yap, aku SD di Indonesia. Lalu pindah ke Jepang untuk sekolah di jenjang SMP. Jadi, aku tahu sekali tentang Indonesia. Itu sebabnya aku beda dengan orang Jepang kebanyakan.



          Yang aku tahu tentang Jepang itu, kalau orang Jepang sering minum alkohol, perempuan Jepang juga suka pakai high heels yang cukup tinggi. Kalau aku sih, memang lebih suka pakai flat shoes, karena lebih nyaman. Di pakai olahraga juga enak. Tapi, jika aku pakai flat shoes saat aku mau bermain sama teman-temanku, mungkin aku sering jadi bahan bullied atau bahan ejekan teman-temanku.  Ada juga, kalau orang Jepang itu susah banget baca huruf alphabet. Sedangkan aku? Haha, profesional. Tapi, aku agak susah baca huruf kanji. Ruwet.



          Kalau Indonesia, yang aku tahu itu Indonesia berbagai macam orangnya. Kalau di Jepang kan orangnya mayoritas berkulit putih dan mempunyai “Slanted Eyes” atau mata sipit, tapi kalau di Indonesia berbagai macam. Ada yang berkulit gelap, coklat, sawo matang, putih. Ada juga yang bermata bulat, besar, kecil, sipit, dll. Mungkin yang menyebabkan Indonesia beragam, adalah luasnya Indonesia, persebaran suku di Indonesia, dan mungkin karena dulu sering dijajah. Seperti dijajah Inggris, Portugis, Belanda, bahkan Jepang pun menjajah Indonesia. Ada lagi yang aku tahu tentang Indonesia. Negara kepulauan, maritim, tempat wisatanya juga banyak, dunia entertainment di Indonesia juga bagus-bagus kan? Seperti grup band-nya, girlband dan boyband, film-filmnya, penyanyi solo nya, dll. Ada lagi! Kebudayaannya. Kebudayaan di Indonesia menurutku itu WOW! Tahu kenapa? Karena bahasa, kebiasaan, aksen/logat nya itu beda-beda. Seperti bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa suku Batak, dll. Sewaktu-waktu aku ingin ke Indonesia lagi.



          Ohya, hari ini adalah hari pertama aku sekolah. Aku pun belum tahu bagaimana teman-temanku. Sikapnya bagaimana pun aku tak tahu. Aku hanya takut jika penampilan ku yang seperti ini, (mata yang sipit, hidung lumayan mancung, bibir tipis, wajah tanpa make-up, rambut panjang sebahu berwarna hitam, seragam bersih dan rapi, rok sedikit di bawah lutut, kaus kaki panjang hampir mencapai lutut, sepatu biasa yang bukan ‘high heels’) akan berbeda dengan yang lain dan menjadi korban bullied. Semoga saja itu tak terjadi.



          Kini aku sudah di depan pagar sekolah ku. “Hmm, inikah sekolah ku? Good!”



          Saat itu halaman sekolah sudah sepi. Karena mungkin aku terlambat. Pintu pagar pun sudah ditutup. Aku berpikir, “Salah aku bangun siang tadi. Mana aku makan hanya sedikit, nggak bawa bekal pula, uang saku pun pas-pas an. Huuuft..”



          Kini, aku mulai maju dan memegang pagar besi sekolah yang berkarat dan mencoba berbicara dengan satpam.



          “Pak satpaamm,” Sapaku manja. “Aku masuk boleh?”



          “Heh, kamu terlambat! Oy, sebentar,” Kata pak satpam yang lalu melihat aku dengan heran. “Aku belum melihatmu sebelumnya, anak baru?”



          “Yoman! Saya anak baru. Perkenalkan, saya Ai Akimoto. Lahir di Tokyo, tanggal 13 Februari 2000. Saya tinggal di blablablablabla di blala bladibla blablablabla.” Kataku, terus menjelaskan dengan panjang lebar.



          “Zzzz, groook, fiuh, zzzzz, groook, fiuhh,” Gumam pak satpam yang hanya menirukan suara seseorang sedang tidur. “Cewek bodoh! Siapa bilang aku mau kenalan sama kamu?”



          “Lho, nggak minta kenalan? Salah deh.” Jawabku singkat.



          “Dasar! Kamu dapat surat dari sekolah? Tentang siswa baru?” Tanya pak satpam.



          “Ha? Aih, sial! Aku nggak tahu kalau ada surat.” Jawabku sangat datar.



          “Heh, anak baru! Yang benar saja kamu nggak bawa! Kamu nggak boleh masuk!” Bentak pak satpam.



          “Aih, pak-nya mah gitu, jahat!” Gumamku dengan bahasa Indonesia aksen Sunda.



          “Apa kamu bilang?” Bentak pak satpam.



          Nothing!” Kataku sedikit kesal. Lalu aku berpikir sesuatu. “Eh, bukannya tadi aku memasukan kertas di tas? Mungkin itu suratnya! Aduh, bodohnya diriku.”



          Aku langsung membuka tas dan mengeluarkan kertas itu. “Yah! Ini benar suratnya!” Teriak ku kegirangan. “Pak!! Ini suratnya!” Teriak ku sambil melambaikan tangan ke pak satpam yang sudah pergi ke pos nya.



          “Hmm, ini memang suratnya. Masuk! Akan kuantar kau ke kantor dan bertemu wali kelas mu.” Kata pak satpam.



          “Siap!” Jawabku hormat.



Aku mengikuti pak satpam. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang bersembunyi dibelakangku. Aku langsung menghadap ke belakang. “Eeh! Siapa kau?” Tanyaku sedikit bersuara pelan.



“Ssshhh! Aku Kyu Otsuka. Siswa sini. Siswa terlambat juga. Diaamm!!” Kata seseorang itu yang ternyata adalah Kyu.



“Oooh.” Jawabku singkat dan sangat datar.



Aku sekarang di depan kantor. “Kyu, lalu kamu? Bagaimana?” Tanyaku.



“Aku saja tak tahu aku masuk kelas berapa. Aku juga murid kelas 7. Kau kelas 7 kan?” Tanya Kyu.



“I,iya.” Jawabku. “Oiya! Kalau tidak salah papan pembagian kelasnya disana!”



“Oh, sip! Thanks!” Jawabnya yang langsung lari ke papan pembagian kelas.



Tak lama kemudian Kyu datang lagi.



“Kyu? Tanyaku yang sudah didalam.



“Aku kelas 7-5!” Bisik Kyu dari jendela.



“Ai, kau kelas 7-5, mari kuantar ke kelas mu.” Kata wali kelas ku yang ternyata Mrs. Himika.



“Baaa....” Suaraku terputus.



“Grubyak!!!!” Suara Kyu terjatuh dan membuat tong sampah di sebelahnya jatuh.



“Siapa itu?” Tanya Mrs. Himika seraya melihat di TKP. “Ka, kamu siswa tahun ajaran baru juga kan?”



“I, iya.” Kata Kyu seraya berdiri.



“Terlambat?”



“I, iya.” Kata Kyu lagi.



“Kelas berapa kau?” Tanya Mrs. Himika.



“Eee, setelah aku lihat di papan sana, aku kelas 7-5.” Kata Kyu serak.



“Baik, akan ku tulis kau di buku pelanggaran dan akan ibu antar kalian ke kelas.”



Setelah di kelas, tampak 2 bangku kosong yang berdekatan disana. Kelas pun belum mulai pelajaran.



“Dua bangku kosong itu untuk kita!” Bisik Kyu sambil tersenyum.



“Heeh, senyum senyum! Coba kalau aku nggak terlambat. Nggak akan aku ketemu kamu!” Jawabku sinis.



“Aiih..” Jawab Kyu singkat.



Setelah perkenalan, aku di persilahkan duduk oleh Mrs. Himika. Saat berjalan ke 2 tempat itu, aku melihat perempuan-perempuan sekelas. Rambut dikuncir mayoritas, ada pula rambut pendek tapi raut mukanya tampak sedih, rata-rata pakai sepatu flat, ada pula 5 orang yang menggunakan sepatu high heels dan rok diatas lutut. Woo, sungguh jijik aku melihatnya.



Mrs. Himika sudah pergi dan akan memanggil guru. Kyu mulai mengajakku mengobrol.



“Ai, kau habis diputuskan pacarmu?” Tanya Kyu.



“Heeh! Aku tak punya pacar!” Bentak ku.



“Lalu, kenapa kau potong rambutmu?” Tanya Kyu.



“Memangnya tidak boleh?” Jawabku.



“Kau tidak tahu?” Tanya Kyu. “Oiya ya, kau kan pindahan dari Indonesia. Belum tahu ya? Akan ku beri tahu. Jadi, di Jepang itu ada kebiasaan perempuan yang memotong rambutnya itu tanda habis diputuskan pacarnya.



“Oy! Ada ya kebiasaan seperti itu?” Tanya ku.



“Tak percaya kau!” Jawab Kyu.



Lalu, aku berpikir. “Jadi, perempuan itu habis diputuskan pacarnya? Pantas sedih. Tapi? Kenapa kecil-kecil sudah pacaran? Padahal masa depan masih jauh. Eh, memangnya nyambung ya? Sudaaah...”



Pelajaran di mulai. Ternyata pelajaran geografi. Gurunya adalah Mrs. Mamiko. Tapi, membahas tentang Jepang. Bukan Indonesia. Aku galau deh. Hahaha.



“Teeeet!!!” Bel menandakan pulang. Aku langsung mengambil sepeda yang aku parkir di dekat kantor. Pak satpam yang menyuruhku.



“Ai! Aku pulang dulu ya!” Kata Kyu sambil berlari dan melambaikan tangannya.



“Eeh! Iya Kyu! Byee!!” Kata ku.



Aku langsung menaiki sepeda ku dan kembali  ke rumah. Saat itu aku berpikir. “Dari semua anak kelas 7-5, hanya Kyu yang peduli dengan teman yang lain. Yang lainnya, sibuk masalah sendiri.”



Sesampainya di rumah ....



“Mama, aku pulang!” Kataku seraya meletakkan tas di sofa dan tidur di sofa.



“Heeh, ganti baju dulu!” Suruh ibu.



“Siap ... ” Jawabku agak malas-malasan berdiri.



“Oh iya Ai, nanti kesini lagi ya. Mama mau bicara.” Kata ibu.



“Siaaap ..” Jawabku lebih malas.



Setelah ganti, aku menuruti kata ibu, ke sofa lagi.



“Apa ma?” Tanyaku.



“Gimana sekolahnya?” Tanya ibu.



“Geografi tentang Jepang. Bukan tentang Indonesia. Galau deeh.” Kataku.



“Hmm, kamu kan bisa belajar tentang Indonesia lewat internet? Lewat mama pun bisa. TV juga ada.” Jelas ibu. “Kamu kan berwarga-negaraan Jepang, juga harus tahu tentang Jepang, dong?”



“Iya siih.” Jawabku pelan.



“Nah, kita ke masalah inti.” Lanjut ibu. “Begini Ai, kita kan ada liburan musim panas. Kamu libur kan? Rencananya, kita akan berlibur ke Indonesia.”



“Hah? KE INDONESIA? MAU BANGET MA! AYOO! Aku packing sekarang deh. Berapa hari? Kamera harus ada! Sandal butuh nggak ya? Nggak deh.” Kata ku terus menggumam.



“Ai! Antusias sekali. Mama belum selesai bicara.” Kata ibu. “Tapi, ini belum pasti, jadwal libur ayah belum keluar. Tapi sudah ada prediksi.”



“Oooh, semoga jadi! Amiiin.” Kataku berdo’a.



Menjelang musim panas, aku masih berada di sekolah.



“Anak-anak, musim panas ini sekolah nggak bisa adakan rekreasi karena kurang dana. Maaf ya anak-anak.” Kata Mrs. Himika.



“Yaaah, aku kan mau ke Hokkaido.” Kata Kyu. “Kamu, seandainya kalau musim panas, maunya kemana?”



“Aku? Aku emang nggak mau ada rekreasi musim panas bersama sekolah.” Jawabku.



“Kenapa? Kan asik?” Tanya Kyu.



“Iya sih, tapi, aku sudah ada recana mau liburan ke Indonesia musim panas ini.” Jawabku terus terang.



“Ooh. Oh iya, sebenarnya, kenapa sih kamu antusias sekali mau ke Indonesia.” Tanya Kyu.



“Karena Indonesia itu, satu kata. WOW.” Jawabku.



“Hooo.” Kata Kyu terperangah.



Pulangnya, ibu menyuruhku untuk bertemu dengan beliau.



“Ada apa bu?” Tanya ku membuka obrolan.



“Begini, tadi ayah telpon. Katanya, saat musim panas ayah nggak libur.” Kata ibu.



“Yaaah, kok bisa?” Tanyaku.



“Katanya sih, bosnya baru tahu kalau ada satu pekerjaan yang belum selesai. Dan ternyata dilakukan saat musm panas.” Kata ibu.



“Aaah, bosnya ayah nggak asik.” Jawabku kesal.



“Yaa, begitulah. Tapi, kapan-kapan kita harus tetap ke Indonesia. Setuju?” Tanya ibu sambil mengajakku tos.



“Setuju!” Jawabku sambil menerima tos ibu.



Setelah kejadian pembatalan liburan ke Indonesia itu, aku langsung lihat TV untuk menghilangkan kegalauan.



“Maraknya GANGNAM STYLE??” Tulisan di channel Indonesia.



“Halah, Gangnam Style kan cuma kayak nunggang kuda. Bagusan juga tari saman, tari tor-tor ...” Gumamku. “Heeh, pengaruh Globalisasi.”



Hari ini saatnya aku sekolah. Kuambil sepedaku. Lalu, tancap langsung ke sekolah.



“Ai!” Sapa Kyu.



“Kamu lagi? Kenapa aku selalu berpapasan denganmu saat berangkat sekolah?” Tanyaku.



“Mm, mungkin emang jamnya berangkat sekolah! Haha.” Jawab Kyu seperti jawaban anak TK.



Di kelas ...



“Ohya, kamu jadi liburan ke Indonesia?” Tanya Kyu.



“Nggak jadi. Aaaaah! Kau mengingatkanku lagi!” Jawabku kesal sendiri.



“Eeh, maaf. Aku nggak tahu.” Kata Kyu.



“Iya iyaa nggak apa.” Kataku.



“Boleh aku tahu tentang Indonesia sedikit?” Tanya Kyu.



“Boleh, boleh. Kategorinya apa nih? Kaindahan alam, Artis, Budaya, Kuliner?” Tanyaku.



“Keindahan alam aja deh!” Kata Kyu.



“Yang aku tahu, Indonesia itu ada banyak keindahan alam. Ada gunung Bromo, Pantai Kuta di Bali, Taman Laut Bunaken di Manado, Danau Toba di Sumatera Utara, dll.” Jelasku.



“Hooo. Kau pernah kesana?” Tanya Kyu.



“Sayangnya nggak. Tapi mau banget.” Kataku.



“Kalau kau kesana, ajak aku ya? Hehe.” Kata Kyu sambil tertawa.



“Boleeh.” Jawabku sambil tersenyum.



“Boleh aku pilih kategori yang lain?” Tanya Kyu ingin tahu.



“Boleh boleh.” Jawabku semangat.



“Aku pilih kuliner!” Kata Kyu semakin semangat.



“Disana itu ada banyak makanan khas di tiap daerah. Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara blabalablablablabla...” Jelasku panjang lebar.



“Heh! Sudah-sudah, sebutkan saja perwakilan tiap daerah. Aku sudah nggak sabar!” Kata Kyu.



“Rendang dari Sumatera Barat, Rawon dari Jawa, apa lagi ya? Ng, Soto! Itu dari Jawa juga. Aku pernah mencoba makan. Enaaaak!! Rawon juga enak!” Kataku.



“Makin ngiler aku. Haha!” Kata Kyu.



“Haha! Yasudah, itu gurunya sudah datang.” Kataku.



Saatnya pulang. Setelah dirumah aku langsung menekan tombol on, dan mencari channel Indonesia.



“Wohoo! Gangnam Style lagi. Di Indonesia juga ada girlband boyband kan? Hemm. JKT48! Temennya AKB48 kan ya? Hoo.” Kataku ngomel sendiri. “Cherrybelle, Smash, apa lagi tuh? Supergirlies, S9B, yang kecil juga ada! Coboy Junior, Swittins. Hooo. Tapi, inspirator nya K-Pop ya? Untuk sebagai inspirasi nggak apa sih, asal jangan ikut-ikut. Apa lagi plagiat.”



Tiba-tiba ...



“Ai!! Ini mukjizat Ai! Mukjizaat!!!” Kata ibu datang mengagetkanku.



“Ada apa ma?” Tanyaku.



“Ayah dapat undian, undiannya tour ke Indonesia!! Aaaah!!!” Kata ibu sangat antusias.



“Yey!!!!! Wohooo! Ke Indonesia ke Indonesia ke Indonesia!” Kataku. “Berarti, ayah libur ma?”



“Iyaaa!!!” Jawab ibu.



“Pekerjaan mendadak itu juga nggak jadi?” Tanyaku.



“Iyaaa!! Sudah di berikan ke pegawai lain!” Kata ibu juga antusias.



“Yee! Kapan ma?” Tanyaku.



“Musim panas ini!!” Kata ibu.



Tiba-tiba, aku berpikir tentang Kyu. Kyu ingin juga ke Indonesia.



“Ma, tiketnya berapa orang?” Tanyaku.



“4! Ayah, mama, kamu, satunya siapa ya?” Jawab dan tanya ibu.



“Kyu ma! Kata Kyu, kalau aku ke Indonesia, dia minta diajak. Boleh nggak ma?” Tanyaku.



“Boleh, boleh! Makin ramai kan semakin asyik!” Kata ibu.



“Yees!! Terimakasih ma!” Kataku.



Setelah itu, aku langsung SMS Kyu kalau dia boleh ikut ke Indonesia. Ternyata, Kyu juga senang. Untung saja Kyu mau.



Tak terasa, tiba saatnya aku pergi ke Indonesia.



“Hari Minggu! Musim panas. It’s Indonesian Channel Time!! Eh, iya. Maksudnya It’s Time To Go To Indonesia!! Eh, 17 Agustus! Hari Kemerdekaan Indonesia! Yeah! Aku bisa merayakannya di Indonesia!” Gumamku di kamar sambil melihat kalender. 



“Eh, Kyu!” Gumamku. Aku langsung SMS Kyu. Ini percakapannya:



Aku: “Kyu? Siap?”



Kyu: “Ha? Siap apa?”



Aku: “Kamu nggak ikut ke Indonesia?”



Kyu: “Haha, bercanda Ai! Aku sekarang sudah di depan rumah mu.”



Aku: “Ha?”



Kyu: “Heh! Bukakan pintunya! Tamu adalah raja tahu! Cepat!”



Aku: “Siap!”



Aku langsung membukakan Kyu pintu. Lalu, tancap ke Indonesia! Indonesia I’m Coming!!



Eh, kalau kalian bertanya, “Orang Jepang, suka Indonesia, apakah itu nggak cinta negara sendiri?” Jawabannya, aku memang orang Jepang, lahir di Jepang, tapi suka Indonesia, itu bukan nggak cinta negara sendiri, tapi mengidolakan negara lain nggak apa dong? Sebagai inspirasi. Agree?



Pesan untuk Indonesia: Tetap istimewa, terus jaga kebudayaannya, semoga tambah maju, tambah keren, nggak ada koruptor lagi, dan jangan ikut-ikutan negara lain! Be yourself! Karena Indonesia selalu di hatiku dan INDONESIA IDOLAKU!!
 ~The End~
-Dian-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar