Senin, 30 Desember 2013

Oh Rolling Door~ (part 2)

[Lintasan kejadian ada di bawah] Nah, setelah Salsha mengajakku bersembunyi ke arah kanan, aku terus berlari menuju jalan yang menyambungkan kantin dan koperasi. Tiba tiba dari belakang, itu namanya Aini ikut ngejar sambil bilang "Yang kena sepatu ini, jadi!" Aku kaget dan panik. Karena aku merasa kejadian ini akan berlanjut menjadi kejar-kejaran. Bayangkan. Anak kelas 8 smp masih suka kejar-kejaran?! Masih jaman kan. Toh masih kelas 8 /plakk

Saat Aini mulai berkata tanda kejar-kejaran, aku terus berlari. Urutan lari-laru ini begini. Anisa memimpin di depan. Di belakang Anisa ada Salsha. Dan di belakang Salsha ada aku. Dan, si kucing Aini ada tepat di belakangku. Nggak salah kan kalau aku panik? Orang aku di belakang B) /ngeles/

Saat sudah dekat di belakang koperasi, disana terdapat tanah lebih tinggi seperti tangga dari tanah. For your information, tangga ini tinggi guys. Salsha yang kurang tinggi ini susah mau naik. Apalagi aku di belakangnya, Aini uda dekat pula. Akhirnya aku bantu dorong Salsha biar cepet naik. Udah aku dorong Salsha dan dia berhasil nyampe atas, aku langsung cepet cepetan naik ke atas.

Saat itu kan pagi menjelang siang, ya. Sang surya udah menampakkan sinarnya ke bumi tuh. Sampai sampai sinarnya masuk ke mataku sehingga aku merasa silau. Sinar itu membuatku memicingkan mata dan berusaha tetap melihat lintasan berlari ku. Tapi apa daya, lintasan selanjutnya adalah belok kanan ke arah koperasi. Karena sinar itu mengganggu penglihatan ku, aku tidak melihat ada rolling door di hadapanku yang digunakan untuk pembatas dengan bagian luar. And, rolling door nya tertutup setengah! "Jduak!" Aku langsung terhantam dengan rolling door itu. Bercampur perasaan panik aku langsung duduk memegangi hidungku. Ku dengar mbak penjaga koperasi berteriak, "siapa ituuu?" Aku hanya terdiam dan terus memegangi hidungku. Aini yang baru datang tertawa dan menganggap itu hanya kejadian kecil. Anisa dan Salsha menghampiriku dan melihat luka di hidungku. Aku tidak menangis, tidak meringis. Aku tertawa! Bayangin. Aku ini apa -- manusia setengah dewa? Harusnya kan sakit? Nangis kek apa gitu. Ini, ketawa! Demi apaa --"
"Ih, dagingnya kayak keluar!" Kata Salsha. "He iya?" Tanyaku antusias. "Iya yaan." Kata Salsha. Aini yang tadinya ketawa sekarang berhenti tertawa dan memperhatikan luka di hidungku. "Di bawa ke uks aja. Minta plester." Kata anak baru asal Garut, Anisa. Akhirnya mereka membawa aku ke UKS dan, hidung aku berplester. Kenangan macam apa di 2013 ini wkwk :D
Jadi pesan moral dari ceritaku, jangan kejar-kejaran --" maksudnya apa ini wkwk :D

Okay, maaf baru posting sekarang. Buatnya sih udah lama tapi nyendat di part 2 wkwk. Jadi baru aku posting sekarang.

Okay, that's all. Babaaay. Tunggu postingan berikutnya :)

Rabu, 25 Desember 2013

Oh Rolling Door~ (part 1)

Hai.
Dear kalian semua. Aku udah lama nggak ngurusin ini blog. Nah, kali ini dian comeback dengan pengalaman mm ..... lucu sih nggak seberapa, mungkin lebih ke konyol. Dian beri judul cerita ini, "Oh Rolling Door."

Hai. Namaku Dian. Cewek serampangan yang terkesan unik dan polos. Aku kelas 8 smp. Umurku 13 tahun. Aku berkacamata dan memiliki cara jalan khas kayak cowok. Aku sudah memiliki cara jalab seperti ini sejak kecil dan, aku sering berusaha untuk memperbaiki cara jalanku. Apa daya, ini kaki reflek jalan kayak cowok.
Aku punya cerita. Cerita yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Kalau pun ada, mungkin beda media, beda nama, beda lokasi, dan beda waktu. Itu jelas. Jangan di perpanjang. Mari kita mulai ceritanya.
Pada hari Jum'at, 18 Oktober 2013, agenda sekolahku adalah olahraga bersama. Aku, Aini, Salsha dan Anisa, hanya duduk termenung di depan uks.
"Kita ngapain ini?" Tanyaku.
"Olahraga bebas katanya .-." Jawab seseorang yang aku lupa. Entah Aini, Salsha dan Anisa.
"Oh.." Jawabku singkat dengan penekanan pada huruf H. Kata anak jaman sekarang, ngabab.
Sudah lama kita berada disana. Melamun, melihat, dan mungkin sedikit mengobrol. Kata-kata yang sering muncul, mungkin seperti: 'Itu siapa?' ; 'Kalo ketemu orang ya senyum rek, manyun aja' ; 'he, nilai utsmu berapa?' ; 'yang udah di bagikan apa aja?' . Ya. Mungkin itu.
Setelah lama duduk disana, aku memilih untuk pergi ke kantin dan memakannya disana. Tentunya dengan besties tersayang.
Setelah aku lama makan, aku membuka sepatuku yang rasanya sumpek ini. Ku letakkan sepatuku di depan ku. Ku lanjutkan meminum susu kedelai favoritku. Kalau tidak salah rasa ...... melon kalau nggak stroberi. Enak deh. No promotion. Oke.
Saat sedang enak enaknya minum, lagi lagi aku lupa siapa pelakunya. Seseorang mengambil sepatuku. Seingatku, pelakunya kalau nggak Salsha ya Aini. Mereka memang hobi ngejahilin aku. Sepatuku dibawa ke tebing-tebing kantin.
"He, sepatukuuu!!!" Teriakku.
"Ambil sana!" Jawab Aini yang menunjuk sepatuku yang sudah tergantung di atas tembok kantin.
Secara, aku kan tinggi *ohok* aku juga bisa ngambil sepatu cuma setinggi tembok kantin. Dengan sedikit bumbu lompat dan sentilan tangan, sepatu itu sudah ada di tangan ku lagi. Wahahaha *laugh evil*
Apa daya. Yang namanya sepatu itu sepasang. Yang kanan, dan yang kiri. Yang kanan udah di tangan, eh, yang kirinya ilang. Siapa pelakunya? Salsha (kali ini aku ga lupa hoho). Mereka berkomplot rupanya. Tubuh Salsha yang kecil, ehm, ralat. Tubuh Salsha yang kurang tinggi, nggak nyampek buat naruh sepatu di atas tebing. Anisa? Tinggi. Jadi, Anisa-lah yang naruh sepatuku di atas tebing. Mereka semua berkomplot rupanya. *memicingkan mata*
Aku kan cerdik, ya aku takut buat ngambil. Orang tiap aku mau ngambil itu namanya Aini Salsha teriak "PAK, BUUU. DIAN NAIK NAIK TEBING!" OH aja buat kalian.
Setelah senang senangnya mereka melihat penderitaanku, cerita berujung saat terakhir Aini memegang sepatuku. Entah kanan atau kiri. Salsha bisik bisik ke aku, "Yan, ayo sembunyi!" Ajaknya.
"Ayo. Satu, dua, tiga!" Jawabku dan dalam hitungan ke-tiga aku, Salsha dan Anisa mulai meninggalkan Aini sendirian.
Aku berlari ke arah kiri. Tiba-tiba .....
"Yan! Sembunyi nya disini aja!" Teriak Salsha menunjuk arah kanan yang tembus ke arah koperasi. Aku ikut berlari kesana.