Hai.
Dear kalian semua. Aku udah lama nggak ngurusin ini blog. Nah, kali ini dian comeback dengan pengalaman mm ..... lucu sih nggak seberapa, mungkin lebih ke konyol. Dian beri judul cerita ini, "Oh Rolling Door."
Hai. Namaku Dian. Cewek serampangan yang terkesan unik dan polos. Aku kelas 8 smp. Umurku 13 tahun. Aku berkacamata dan memiliki cara jalan khas kayak cowok. Aku sudah memiliki cara jalab seperti ini sejak kecil dan, aku sering berusaha untuk memperbaiki cara jalanku. Apa daya, ini kaki reflek jalan kayak cowok.
Aku punya cerita. Cerita yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Kalau pun ada, mungkin beda media, beda nama, beda lokasi, dan beda waktu. Itu jelas. Jangan di perpanjang. Mari kita mulai ceritanya.
Pada hari Jum'at, 18 Oktober 2013, agenda sekolahku adalah olahraga bersama. Aku, Aini, Salsha dan Anisa, hanya duduk termenung di depan uks.
"Kita ngapain ini?" Tanyaku.
"Olahraga bebas katanya .-." Jawab seseorang yang aku lupa. Entah Aini, Salsha dan Anisa.
"Oh.." Jawabku singkat dengan penekanan pada huruf H. Kata anak jaman sekarang, ngabab.
Sudah lama kita berada disana. Melamun, melihat, dan mungkin sedikit mengobrol. Kata-kata yang sering muncul, mungkin seperti: 'Itu siapa?' ; 'Kalo ketemu orang ya senyum rek, manyun aja' ; 'he, nilai utsmu berapa?' ; 'yang udah di bagikan apa aja?' . Ya. Mungkin itu.
Setelah lama duduk disana, aku memilih untuk pergi ke kantin dan memakannya disana. Tentunya dengan besties tersayang.
Setelah aku lama makan, aku membuka sepatuku yang rasanya sumpek ini. Ku letakkan sepatuku di depan ku. Ku lanjutkan meminum susu kedelai favoritku. Kalau tidak salah rasa ...... melon kalau nggak stroberi. Enak deh. No promotion. Oke.
Saat sedang enak enaknya minum, lagi lagi aku lupa siapa pelakunya. Seseorang mengambil sepatuku. Seingatku, pelakunya kalau nggak Salsha ya Aini. Mereka memang hobi ngejahilin aku. Sepatuku dibawa ke tebing-tebing kantin.
"He, sepatukuuu!!!" Teriakku.
"Ambil sana!" Jawab Aini yang menunjuk sepatuku yang sudah tergantung di atas tembok kantin.
Secara, aku kan tinggi *ohok* aku juga bisa ngambil sepatu cuma setinggi tembok kantin. Dengan sedikit bumbu lompat dan sentilan tangan, sepatu itu sudah ada di tangan ku lagi. Wahahaha *laugh evil*
Apa daya. Yang namanya sepatu itu sepasang. Yang kanan, dan yang kiri. Yang kanan udah di tangan, eh, yang kirinya ilang. Siapa pelakunya? Salsha (kali ini aku ga lupa hoho). Mereka berkomplot rupanya. Tubuh Salsha yang kecil, ehm, ralat. Tubuh Salsha yang kurang tinggi, nggak nyampek buat naruh sepatu di atas tebing. Anisa? Tinggi. Jadi, Anisa-lah yang naruh sepatuku di atas tebing. Mereka semua berkomplot rupanya. *memicingkan mata*
Aku kan cerdik, ya aku takut buat ngambil. Orang tiap aku mau ngambil itu namanya Aini Salsha teriak "PAK, BUUU. DIAN NAIK NAIK TEBING!" OH aja buat kalian.
Setelah senang senangnya mereka melihat penderitaanku, cerita berujung saat terakhir Aini memegang sepatuku. Entah kanan atau kiri. Salsha bisik bisik ke aku, "Yan, ayo sembunyi!" Ajaknya.
"Ayo. Satu, dua, tiga!" Jawabku dan dalam hitungan ke-tiga aku, Salsha dan Anisa mulai meninggalkan Aini sendirian.
Aku berlari ke arah kiri. Tiba-tiba .....
"Yan! Sembunyi nya disini aja!" Teriak Salsha menunjuk arah kanan yang tembus ke arah koperasi. Aku ikut berlari kesana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar